Selasa, 27 September 2011

makalah organisasi kurikulum


KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penyusun panjatkan khadirat Alloh SWT yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ORGANISASI KURIKULUM. Penyusunan makalah ini bertujuan memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran.
            Perkembangan pendidikan ditentukan oleh perkembangan dari peserta didiknya, oleh karena itu seorang guru dan para calon guru harus mempersiapkan dan berusaha untuk meningkatkan kualitas peserta didiknya baik dari segi apektifnya maupun dari segi kognitifnya. Selain itu juga harus mempersiapkan kemungkinan – kemungkinan atau masalah yang akan muncul dari peserta didik dan berusaha untuk mencari penyelesaian masalahnya.
Penyelesaian  makalah ini tentu saja tidak lepas dari dari bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat :
1.        Bapak Dede Anwar, Drs., M.Pd selaku Dosen mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran yang selalu memberikan ilmu, pengalaman, motivasi;
2.        teman-teman seperjuangan yang telah memberikan semangat, dukungan dan ilmunya;
3.        seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dengan segala kerendahan hati penyusun menyadari bahwa hasil yang dicapai dari makalah ini, masih jauh dari sempurna dan banyak kekuranganya, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan. Akhir kata penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun pribadi maupun pembaca sekalian dan mudah-mudahan amal baik kita mendapat ridho dan magfiroh-Nya. Amin.

                                                                                                            
                                                                                    Bukittinggi,    September 2011


                                                                                                     Penyusun




DAFTAR ISI

                                                                                                                            
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... i           
DAFTAR ISI........................................................................................................................ ii
BAB I  PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah ......................................................................... .......... 1
B.  Rumusan Masalah................................................................................... .......... 2
C.  Tujuan Makalah ...................................................................................... .......... 2
D.  Kegunaan Makalah................................................................................. .......... 2
E.   Prosedur Makalah................................................................................... .......... 2
BAB II  KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
A.      Landasan Teoretis................................................................................. .......... 3
B.       Pembahasan.......................................................................................... .......... 4
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
A.      Simpulan............................................................................................... ......... 21         
B.       Saran..................................................................................................... ......... 21
DAFTAR PUSTAKA








BAB I 
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
       
Tentu telah kita pahami bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang sangat diperlukan dalam dunia persekolahan. Tanpa adanya sebuah kurikulum, dipastikan proses pendidikan tidak akan terarah dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.  Guru akan kesulitan menjabarkan urutan dan cakupan materi pembelajaran yang ditempuhnya, proses pembelajaran yang diselenggarakan, alat/media yang digunakan, penilaian yang perlu dilakukan, dsb.   Salah satu hal yang penting kurikulum adalah organisasi kurikulum itu sendiri. Organisasi kurikulum adalah  struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada murid (Nurgiyantoro, 1988:111). Menurut Nasution (1982:135), organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang disusun dan disampaikan kepada murid-murid. Struktur program dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berkaitan dengan bagaimana bahan/mata pelajaran diorganisasikan/disusun dalam pola-pola tertentu. Adapun struktur vertikal berkaitan dengan sistem pelaksanaan kurikulum di sekolah.  Melalui organisasi kurikulum ini, guru dan pengelola pendidikan akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan program pendidikan, bahan ajar, tata urut dan cakupan materi, penyajian materi, serta peran guru dan murid dalam rangkaian pembelajaran. Cara pengembang kurikulum mengorganisasikan kurikulum akan berkaitan pula dengan bentuk atau model kurikulum yang dianutnya.  Ketika Kita ditanya, ”Apa saja yang Kita pelajari semasa di SMP?”, jawaban Kita umumnya akan mengacu pada nama-nama mata pelajaran yang diajarkan. Kemudian, bila pertanyaan dilanjutkan dengan “Bagaimana kaitan antar-materi pelajaran yang Kita pelajari?”, Kita pun bisa jadi akan menjawab, “Wah, kadang-kadang tumpang tindih. Ada materi yang sudah dipelajari pada mata pelajaran yang satu, dibahas pula pada mata pelajaran yang lain.” Saudara, ilustrasi tersebut menggambarkan di antaranya bagaimana sebuah kurikulum diorganisasikan. Namun demikian, kita menyadari bahwa cara mengorganisasikan kurikulum itu bermacam-macam. Tidak satu cara. Masing-masing cara memiliki kekuatan dan kelemahan.  Sebagai guru atau pendidik, Kita pun berperan sebagai pengembang kurikulum yang perlu memahami dengan baik bagaimana kurikulum diorganisasikan. Oleh karena itu, pada makalah ini kita akan mempelajari seluk-beluk perngorganisasian kurikulum. Dengan mempelajari unit ini, Kita diharapkan dapat:
1.  menjelaskan konsep dasar organisasi kurikulum
2.  menjelaskan bentuk struktur program horizontal;
3.  menjelaskan struktur program vertikal; serta
4.  menganalisis struktur program kurikulum yang digunakan sekolah.
Keempat kemampuan itu akan disajikan dalam tiga sub-unit berikut. 
1.  Subunit 1: Struktur horizontal 
2.  Subunit 2: Struktur vertikal. 
3.  Subunit 3: Strategi Pelaksanaan Kurikulum
B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, permasalahan yang akan diteliti dalam makalah ini adalah.
1.        Bagaimanakah cara yang dilakukan organisasi kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan?
2.        Bagaimana strategi pelaksanaan kurikulum?
C.           Tujuan Makalah
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah :
1.        untuk mengetahui pengertian organisasi kurikulum;
2.        untuk mengetahui tujuan organisasi kurikulum;
3.        untuk mengetahui jenis-jenis organisasi kurikulum;
4.        untuk mengetahui factor-faktor organisasi kurikulum;
5.        untuk mengetahui cara organisasi kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan;
6.        Untuk mengetahui strategi pelaksanaan kurikulum.
D.           Kegunaan Makalah
Dalam penyusunan makalah ini, terdapat sesuatu yang bermanfaat bagi penyusun dan pembaca, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis penyusun atau pembaca dapat menambah ilmu pengetahuan yang bisa berguna dalam kehidupan sehari – hari, berkelompok atau berorganisasi, dan secara praktis penyusun dan pembaca dapat menjadi suatu acuan yang berguna bagi :
1.        penyusun
a.       menambah pengetahuan tentang organisasi kurikulum;
b.      mengetahui bagaimana cara pencapaian tujuan pendidikan melalui organisasi kurikulum;
2.        pembaca
a.       memberikan informasi tentang organisasi kurikulum dan cara pencapaian tujuan pendidikan melalui organisasi kurikulum;
E.            Prosedur Makalah
Makalah  ini mempunyai susunan yang sistematis mulai dari pengumpulan data, pengonsepan hingga penyusunan. Adapun pengumpulan data penyusunan menggunakan sistem study literatur.





























BAB II
ORGANISASI KURIKULUM

A.      Landasan Teoretis
1.    Pengertian Organisasi Kurikulum
     Organisasi kurikulum, yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran di susun dan di sampaikan kepada murid – murid, merupakan suatu dasar yang sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak tercapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid – murid.
2.    Tujuan Organisasi Kurikulum
                        Karena kurikulum merupakan rencana untuk keperluan pelajaran anak, maka bahan pelajaran harus dituangkan dalam organisasi tertentu agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Organisasi kurikulum dimaksudkan untuk memudahkan anak belajar. Organisasi atau disain kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai.
3.    Jenis – jenis Organisasi Kurikulum
Telah kita bicarakan bahwa sumber bahan pelajaran untuk kurikulum ialah: pengetahuan, masyarakat dan anak. Kurikulum bermacam bentuknya. Yang paling terkenal dan pemakaian yang luas adalah subjec curiculum. Subjec curiculum yaitu mata pelajaran. setiap kurikulum juga mempunyai subjec mater yaitu bahan pelajaran(integreted kurikulum). Maka dengan demikian diperoleh jenis organisasi kurikulum sebagai berikut:
a.    kurikulum berdasarkan mata pelajaran (subjec curiculum)
1)    mata pelajaran terpisah-pisah(separate subject curiculum)
2)    mata pelajaran gabungan (correlated curiculum)
b.    kurikulum terpadu (integreted curiculum)
1)      berdasarkan “social functions” atau “major areas of living”
2)      berdasarkan masalah-masalah, minat dan kebutuhan pemuda
3)      berdasarkan pengalaman pemuda (experince curriculum, activity curriculum)
4)      kurikulum inti (core curriculum)
4.    Faktor – Faktor Dalam Organisasi Kurikulum
a.    Scope
Scope atau ruang lingkup kurikulum berkenaan dengan bahan pelajaran yang harus di liputi. Scope menentukan apa yang akan di pelajari, Biasanya yang menentukan scope termasuk sequence (urutan) adalah para ahli pengembang kurikulum di bantu oleh ahli di siplin ilmu, juga pengarang buku, penyusun program latiahan atau kursus.
b.    Sequence atau Urutan
Sequence menentukan urutan bahan pelajaran di sajikan, apa yang dahulu apa yang kemudian, dengan maksud agar poses belajar berjalan dengan baik. Faktor – faktor yang turut menentukan urutan bahan pelajaran antara lain : kematangan anak, latar belakang pengalaman atau pengatahuan, tingkat inteligenci, minat, kegunaan bahan, dan kesulitan bahan pelajaran.
c.    Continuitas
Dengan continuitas di maksud bahwa bahan pelajaran senantiasa meningkat dalam keluasan dan kedalamannya. Dengan bahan yang di pelajari siswa di hadapkan dengan bahan yang lebih kompleks, buah fikiran yang lebih sulit, nilai – nilai yang lebih tinggi, sikap yang lebih halus, ketelitian yang lebih cermat, operasi mental yang lebih matang
d.   Integrasi
Dengan kurikulum berdasarkan mata pelajaran yang terpisah – pisah besar kemungkinan pengetahuan yang di miliki para siswa lepas – lepas. Adnya fokus bahan pelajara terpadu berupa konsep, prinsip, masalah membuka kemungkinan menggunakan berbagai di siplin secara fungsional.
e.    Keseimbangan
Keseimbangan dapat di pandang dari dua segi, yaitu (1). Keseimbangan isi, yaitu tentang apa yang di pelajari dan (2) keseimbangan cara atau proses belajar. Tidak semua siswa dapat belajar secara efektif dengan cara yang sama. Maka perlu berbagai macam metode dan kegiatan belajar.
f.     Distribusi Waktu
Kurikulum harus di tuangkan dalam bentuk kegiatan belajar beserta waktu yang di sediakan untuk masing – masing pelajaran. Di sini di hadapi masalah distribusi atau pembagian waktu, yang harus menjawab pertanyaan seperti berapa tahun suatu mata pelajaran harus di berikan, berapa kali seminggu dan berapa lama tiap pelajaran.

B.       Pembahasan
1.    Bagaimanakah cara yang dilakukan organisasi kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan?
            Organisasi kurikulum merupakan hal yang terpenting dalam mencapai tujuan pendidikan, oleh sebab itu pengorganisasian dalam kurikulum sangat diperlukan dan diharuskan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Melalui organisasi kurikulum ini, guru dan pengelola pendidikan akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan program pendidikan, bahan ajar, tata urut dan cakupan materi, penyajian materi, serta peran guru dan murid dalam  rangkaian pembelajaran. Cara pengembang kurikulum mengorganisasikan kurikulum akan berkaitan pula dengan bentuk atau model kurikulum yang dianutnya.
                        Adapun cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan adalah dengan menyusun struktur program organisasi kurikulum yaitu struktur vertikal dan struktur horizontal. Struktur horizontal berkaitan dengan bagaimana bahan/mata pelajaran diorganisasikan/disusun dalam pola-pola tertentu. Adapun struktur vertikal berkaitan dengan sistem pelaksanaan kurikulum di sekolah. Untuk lebih jelasnya akan di bahas di bawah ini.
a.    Struktur Horizontal
       Struktur horizontal dalam organisasi kurikulum adalah suatu bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Hal ini berkaitan erat dengan tujuan pendidikan, isi pelajaran, dan strategi pembelajarannya. Dalam kaitannya dengan struktur horizontal ini  terdapat tiga macam bentuk penyusunan kurikulum. Ketiganya ialah (1)  separate-subject-curriculum, (2)  correlated-curriculum, dan (3) integrated-curriculum. Adapun yang harus diingat, bahwa pembedaan menjadi tiga macam bentuk tersebut lebih bersifat teoretis, karena pada kenyataannya tidak ada kurikulum yang secara mutlak dikembangkan dengan hanya salah satu bentuk saja dengan tanpa mengaitkannya dengan yang lain.
1)        Konsep dasar separate subject curriculum
                        Apa dan bagaimanakah  separate-subject curriculum  itu? Kurikulum ini menekankan penyajian bahan pelajaran dalam bentuk bidang studi atau mata pelajaran. Masing-masing mata pelajaran ditetapkan berdasarkan disiplin keilmuan. Isinya ialah pengetahuan yang telah tersusun secara logis dan  sistematis dari masing-masing bidang keilmuan. Antarmata merupakan unsur yang terpisah-pisah. Tak ada pengaitan antarsatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain.  Ppenetapan materi pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, dilakukan untuk mencapai empat keterampilan berbahasa saja (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Mengenai apa yang disimak, yang dibicarakan, yang dibaca, dan yang ditulis bebas saja, bisa mengenai energi, masyarakat, dll., tanpa dikaitkan dengan  isi mata pelajaran lain, yang terkait sekalipun (fisika dan sosiologi). Yang penting, apa yang tersajikan dalam mata pelajaran itu sistematis secara internal mata pelajaran itu sendiri. Jumlah mata pelajaran dan alokasi waktu yang diberikan bervariasi, sesuai dengan tingkat dan jenis sekolah.Tingkat-tingkat sekolah sebagaimana kita ketahui adalah SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Sementara jenis sekolah biasanya menacu pada sekolah umum dan sekolah kejuruan. Masing-masing tingkat dan jenis sekolah memerlukan cakupan dan spesifikasi bahan pelajaran yang berbeda-beda. Bahan pelajaran itu selanjutnya dipilah-pilah berdasarkan satuan kelas dan semesternya.
                        Dengan demikian,  pengorganisasian  separate-subject curriculum  benar-benar disusun dengan berorientasi pada mata pelajaran  (subject centered). Pengorganisasian kurikulum ini dilatarbelakangi oleh pandangan ilmu jiwa asosiasi, yang mengharap-kan terbangunnya kepribadian yang utuh berdasarkan potongan-potongan pengetahuan. Kurikulum bentuk terpisah ini sangat menekankan pada pembentukan intelektual dan kurang mengutamakan pembentukan kepribadian anak secara keseluruhan.  Saudara, penyusunan  separate-subject curriculum biasanya dilakukan tim pengembang yang telah ditunjuk di tingkat nasional. Tim ini menentukan seluruh pengalaman edukatif, luas bahan pelajaran  (scope) yang harus disajikan dan dipelajari siswa, serta waktu penyajian bahan pelajaran.  Hal lain yang penting dalam pengorganisasian kurikulum ialah pengurutan (sequence) bahan pelajaran. Pengurutan harus  dilakukan sedemikian rupa sehingga benar-benar terjaga kesinambungan bahan. Harus dihindari keterulangan bahan pelajaran yang sudah pernah dipelajari siswa di kelas sebelumnya, dan keterlewatan bahan pelajaran. 
Sebelumnya telah disinggung bahwa penyusunan kurikulum jenis ini dilakukan oleh tim. Tim ini terdiri atas para tokoh dan ahli pendidikan serta para ahli dalam disiplin keilmuan tertentu. Mereka inilah yang menetapkan apakah yang diperlukan siswa kelak dalam kehidupannya di masyarakat. Jadi, dalam kurikulum ini memang sudah ditetapkan pengalaman-pengalaman apa saja yang akan ditempuh siswa dalam belajar. Oleh karena itu, biasanya bahan pelajaran dan bahkan buku pelajarannya, telah disiapkan sebelumnya.  
                        Saudara, terdapat sejumlah persoalan yang muncul sebagai akibat pengorgani-sasian kurikulum seperti itu. Pertama, karena dibangun oleh tim khusus, apalagi tingkat nasional, maka bisa dibayangkan adanya keseragaman yang terjadi. Untuk negara Indonesia yang begitu luas, dari Sabang hingga Merauke, menggunakan  kurikulum yang sama. Padahal, daerah-daerah di wilayah Indonesia ini sangat berbeda kondisinya.  Kedua, keberadaan buku pelajaran (paket) kerap menimbulkan salah penyikapan bahwa kurikulum itu buku pelajaran. Pada kasus ini terjadilah penyem-pitan substansi. Keadaan ini biasanya menimpa guru yang tidak profesional. Apa pun yang terjadi, yang diajarkan dan disajikan kepada para siswa hanya buku paket itu saja. Sebaliknya, bagi guru yang yang profesional, ia tidak akan mau diperhamba oleh satu buku (paket) saja. Dia tentu akan menambah referensi lain untuk memperkaya, memperdalam, dan menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan selaras dengan kebutuhan siswa.
a)   Kelebihan separated-subject curriculum :
-     Bahan pelajaran tersajikan secara logis dan sistematis
     Dalam kurikulum ini, bahan telah disiapkan dan disusun secara sistematis, logis, dan berkesinambungan. Penyusunan bahan telah menggunakan urutan yang tepat, dari yang mudah menuju yang sukar, dari yang sederhana menuju yang kompleks. Ilmu pengetahuan yang akan disampaikan kepada anak sudah dalam urutan logis sebagaimana yang telah ditata dan dipikirkan oleh para ahli. Dengan demikian, penggunaan kurikulum ini akan memudahkan guru dalam menyajikan materi, dan dipandang lebih efektif dan  efisien, karena pihak sekolah dan guru tinggal menyampaikan saja
-     Organisasi kurukulum sederhana serta mudah direncanakan dan dilaksanakan
     Karena tiap mata pelajaran disikapi sebagai suatu satuan yang otonom, maka perhatian dan penyusunan bahan hanya  sebatas mata pelajaran itu sendiri. Keseder-hanaan inilah yang menjadikan kurikulum mudah disusun dan dilaksanakan oleh para pengembang maupun guru. Kurikulum ini juga mudah untuk direorganisasi, ditambah, atau dikurangi. Penentuan jumlah, cakupan, dan urutan mata pelajaran tidak seberapa menimbulkan banyak masalah  Dalam pelaksanaan kurikulum, guru umumnya dapat berpegang pada buku pelajaran yang telah ditentukan, dan mengajarkannya bab demi bab. Apa yang diajarkan sudah ditentukan lebih dahulu, sehingga guru dapat menyesuaikan jumlah waktu yang ditentukan dengan bahan pelajaran yang tersedia.
-     Kurikulum mudah dinilai
     Kurikulum ini utamanya bertujuan menyampaikan sejumlah pengetahuan, pengertian, dan kecakapan-kecakapan tertentu yang mudah dinilai dengan tes. Bahan pelajaran pun bisa ditentukan dengan menetapkan buku-buku pelajaran yang harus digunakan oleh suatu daerah, atau bahkan satu negara. Hal ini akan memudahkan dilakukannya ujian umum yang sama dalam satu wilayah negara. Dengan mudahnya pelaksanaan ujian, maka mudah pula mendapatkan data seandainya diperlukan perubahan-perubahan. Misalnya bila materi sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman, baik menyangkut keseluruhan komponen bahan ataupun sebagian, maka dengan segera dapat dilakukan perubahan atau penyesuaian isi kurikulum.
-     Memudahkan guru sebagai pelaksana kurikulum
     Umumnya pendidikan guru mempersiapkan calon guru/guru (tingkat sekolah lanjutan) untuk mengajarkan mata pelajaran tertentu. Dengan kurikulum ini, apa yang akan diajarkan guru sejalan betul dengan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya saat kuliah. Lebih-lebih bila mereka telah memiliki pengalaman mengajar bertahun-tahun. Mereka menjadi sangat menguasai bahan pelajaran dan lebih merasa aman dengan menggunakan kurikulum subject-centered ini.
-     Kurikulum ini juga dipakai di perguruan tinggi
     Manajemen kurikulum di terguruan tinggi pada umumnya menerapkan speparated subject curculum. Mahasiswa mempelajari bidang keilmuan secara terkonsentrasi. Karena saat di sekolah menengah mereka juga diajar dengan menggunakan model kurikulum yang sama, maka para siswa lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke perguruan  tinggi telah terbiasa dengan belajar dalam situasi kurikulum seperti ini.
-     Kurikulum ini mudah diubah
     Perubahan kurikulum yang terjadi umumnya didasarkan pada organisasi mata pelajaran. Penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan zaman biasanya dilakukan dengan menambah mata pelajaran, bisa juga meluaskan atau menyempitkan materi pelajaran. Hal seperti ini tentu akan mudah dilaksanakan pada kurikulum yang diorganisasikan dengan cara  separated subject curiculum, karena masing-masing mata pelajaran bersifat terpisah. Dengan demikian penambahan, pengurangan, ataupun cakupan materi pun tidak akan mengganggu pelajaran lain.
b)   Kelemahan Separate-Subject Curriculum
-     Mata pelajaran terpisah-pisah
     Mata pelajaran dalam kurikulum ini diberikan secara terpisah-pisah. Tidak ada upaya menghubungkan antara satu mata pelajaran dengan  mata pelajaran lainnya. Hal ini menjadikan peserta didik akan menerima pengetahuan secara terpisah-pisah, dalam konsentrasi masing-masing mata pelajaran. Padahal, pelbagai persoalan kehidupan yang riil umumnya perlu dihadapi dengan pengetahuan yang menyeluruh atau terpadu.  Dengan demikian, anak masih sering mengalami kegagapan pada saat menghadapi persoalan sehari-hari dengan berbagai konteksnya.
-     Kurang memperhatikan masalah kehidupan sehari-hari
     Penyampaian kurikulum ini semata-mata menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan. Bahkan kadang-kadang materi yang dipelajari siswa tidak ada relevansinya dengan kebutuhan hidup. Bila anak sudah bisa memecahkan permasalahan-permasalahan di sekolah dianggap dengan sendirinya akan mampu mentransformasikannya dalam menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari. Padahal, kenyataan hidup di luar sekolah berbeda sekali dengan apa yang biasa terjadi di sekolah.
-     Cenderung statis dan ketinggalan zaman
     Karena pengetahuan dianggap sebagai hal yang telah ditemukan orang masa lalu, maka kegiatan belajar siswa di sekolah hanya mempelajari apa yang sudah   ada dan disiapkan. Akibatnya, buku pelajaran yang digunakan pun bisa berlaku bertahun-tahun, tanpa pernah melakukan revisi. Bila ini yang terjadi, maka semuanya akan menjadi statis. Buku pegangan guru tetap itu-itu saja. Padahal, kehidupan manusia terus berkembang secara dinamis. Apa yang dianggap benar pada masa lalu, belum tentu dianggap benar pada masa sekarang. Apalagi bila ada guru “tertutup” yang fanatik pada satu buku, karena buku itulah yang dulu dipelajarinya, maka dianggaplah apa yang ada dalam buku itu yang paling benar.
-     Tujuan kurikulum sangat terbatas 
     Separated subject curriculum hanya menekankan pada aspek intelektual, dan mengabaikan aspek emosional dan sosial. Padahal, ketiga aspek itu sama pentingnya bagi tumbuh-kembang siswa secara utuh. Karena hanya menekankan aspek intelektual, maka anak akan mengalamai persoalan pada saat harus terjun ke masyarakat untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Materi pelajaran pun disamaratakan untuk semua peserta didik, tanpa memperhatikan perbedaan individu. Karena itu pula, kurikulum  separated subject curriculum dipandang tidak demokratis.
2)        Correlated-Subject Curriculum
                        Correlated subject curriculum dikembangkan dengan semangat menata/ mengelola keterhubungan antarberbagai mata pelajaran. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan kehidupan bahwa tak ada satu fenomena pun yang terlepas dari fenomena lainnya.  Tidak mungkin kita membicarakan suatu mata pelajaran tanpa menyinggung sama sekali mata pelajaran yang lain. Untuk itulah diperlukan kurikulum yang dapat memberikan pengalaman belajar yang dapat menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran lain. Kurikulum ini diharapkan dapat membangun keterpaduan pengetahuan dan pengalaman belajar yang diperolehnya.
                        Adanya upaya menata keterhubungan antara berbagai mata pelajaran inilah yang kemudian melahirkan bentuk kurikulum yang dikenal dengan  correlated subject. Akan tetapi ada hal yang harus Anda catat, bahwa dalam correlated subject ini tidak berarti kita memaksakan adanya hubungan antarsejumlah mata pelajaran. Kita harus tetap sadar dan mempertahankan adanya batas-batas yang ada. Upaya menghubungkan antarmata pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut. 
-    Menghubungkan secara insidental
Pengaitan antarmata pelajaran terjadi karena kasus kebetulan. Misalnya, saat dua atau lebih guru bidang studi saling mengamati kurikulum atau bahan pelajaran yang ada, para guru tersebut melihat adanya bahan pelajaran yang satu sama lain
dapat dihubungkan.
-    Menghubungkan secara lebih erat dan terencana
Pengaitan antarmata pelajaran disebabkan oleh adanya suatu pokok bahasan atau permasalahan yang dapat dibahas dari berbagai macam mata pelajaran. Misalnya,  masalah etika, moral, dan kependudukan dibicarakan dalam mata pelajaran PKn, Bahasa Indonesia, IPS, dan Agama. Pengaitan antarbahan pelajaran itu dilakukan secara terencana, bukan kebetulan. Satu topik yang sama disoroti dari sudut pandang masing-masing mata pelajaran. Namur demikian, setiap mata pelajaran tetap diberikan secara sendiri-sendiri dalam jam yang berbeda.
-    Menghubungkan beberapa mata pelajaran dengan menghilangkan batas yang ada
Pengaitan antarpelajaran dilakukan dengan menggabungkan beberapa mata pelajaran sehingga menghilangkan batas yang ada antarmata pelajaran. Beberapa
pelajaran yang serumpun dipadukan menjadi satu dengan satu nama mata pelajaran. Misalnya pada kurikulum 2006 kita kenal ada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), yang pada dasarnya di dalamnya terdiri atas beberapa bahan/materi pelajaran ekonomi, geografi, dan sejarah. Contoh lain bisa kita sebut mata pelajaran Matematika, yang merupakan penggabungan dari mata pelajaran berhitung, aljabar, dan ilmu ukur.
Penggabungan beberapa mata pelajaran ini lazim disebut broad-fields, yang sebenanrya berarti suatu kesatuan yang tidak terbagi dalam bagian-bagian. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penggabungan itu masih sebatas pada kumpulan bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang bahan/materi pelajarannya dikurangi. Oleh karenanya,  broad-fields ini sebenanya masih bersifat subject centered (berorientasi pada mata pelajaran), hanya saja telah dimodifikasi dari bentuknya yang tradisional.
a)   Kelebihan Correlated Curriculum
-     Mendukung keutuhan  pengetahuan dan pengalaman belajar murid Siswa tidak menerima pelajaran dalam satuan/bahasan yang terpisah-pisah. Mereka mempelajari suatu permasalahan yang disoroti dari berbagai sudut yang saling berhubungan, yaitu melalui berbagai mata pelajaran. Dengan demikian, pengetahuan dan pengalaman anak didik diharapkan dpat lebih luas.
-     Memungkinkan penerapan hasil belajar yang lebih fungsional
     Adanya keterkaitan antarmata pelajaran menjadikan pengetahuan dan pengalaman belajar siswa dapat diterapkan lebih fungsional. Pengaitan antarmateri pelajaran lebih mengutamakan prinsip-prinsip daripada penguasaan fakta-fakta. Dengan prinsip-prinsip yang diolah dari berbagai mata pejaran inilah anak didik dapat lebih terbuka untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya secara lebih komprehensif.
-     Meningkatkan minat belajar siswa
     Pemahaman tentang adanya keterkaitan antarmata pelajaran dapat  menjadi modal bagi tumbuhnya minat belajar siswa. Mereka akan merasa apa yang dipelajari pada mata pelajaran tertentu memiliki manfaat dalam mata pelajaran yang lain.
b)   Kelemahan Correlated Subject Curriculum
-     Kurikulum masih bersifat subject centered 
     Sifat kurikulum yang subject centered (berpusat pada subjek/mata pelajaran) menjadikan bahan pelajaran disusun berdasarkan pada struktur ilmu pengetahuan. Artinya, bahan mata pelajaran dalam kurikulum belum memiliki orientasi pada minat-bakat dan kebutuhan sehari-hari siswa (child centered). 
-     Kurang memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam
     Penggabungan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan lingkup yang lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam. Bagaimana-pun, pembicaraan mengenai suatu pokok masalah dalam sejumlah berbagai mata pelajaran tetap tidak padu, karena pada dasarnya masing-masing memang merupakan  subject (mata pelajaran) yang berbeda. Dengan dikuranginya bahan/materi (juga jam) pelajaran, maka pengetahuan yang dikuasai anak didik menjadi dangkal.
-     Menuntut pendekatan interdisipliner 
     Para guru, khususnya untuk sekolah lanjutan, umumnya disiapkan untuk mengajar satu mata pelajaran tertentu. Sulit bagi mereka untuk menerapkan pendekatan interdisipliner, yang menuntut kesanggupan guru untuk dapat berpandangan dan berpikir secara lintas disiplin.Guru pun masih sangat fanatik terhadap disiplin atau mata pelajaran pokok yang diasuhnya. Kalaupun menggunakan mata pelajaran lain, hal itu kerap itu disikapi sebagai pelajaran pembantu.
3)        Integrated Curriculum
                        Ciri pokok dari  integrated curriculum  ini adalah tiadanya batas atau sekat antarmata pelajaran. Semua mata pelajaran dilebur menjadi satu dalam bentuk unit. Oleh karena itu, kurikulum ini disebut juga sebagai kurikulum unit. Kalau dalam correlated subject curriculum masing-masing mata pelajaran masih menampakkan eksistensinya, maka dalam  integrated curriculum ciri-ciri setiap mata pelajaran hilang sama sekali. Namun, jangan disalahpahami.  Integrated curriculum  tidak sekedar berupa keterpaduan bentuk yang melebur berbagai mata pelajaran, melainkan juga aspek tujuan yang akan dicapai dalam belajar.  Melalui keterpaduan diharapkan dapat terbentuk pula keutuhan kepribadian anak didik yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, apa yang diajarkan di sekolah harus benar-benar disesuaikan dengan situasi, masalah, dan kebutuhan kehidupan di masyarakat.
Sebagai ilustrasi, kita bisa mengangkat persoalan listrik dalam masyarakat. Persoalan listrik ini selanjutnya dibahas/dikupas dari berbagai perspektif secara komprehensif: dari segi lingkungan alam, ekonomi, sosial, mekanika, dsb. Di sini mata pelajaran dilebur menjadi satu kesatuan unit bahasan yang tidak terpisah-pisah sebagaimana halnya dalam  separated subject curriculum maupun corelated subject curriculum. Yang ada hanya perspektif dari ilmu alam, ekonomi, dan sosial, dsb. Di dalam unit pembelajaran harus terdapat hubungan antarberbagai kegiatan belajar siswa, dalam perspektif berbagai mata pelajaran. Hal itu dapat dicapai jika tujuan pembelajaran mengarahkan siswa untuk dapat memecahkan persoalan dengan menggunakan metode berpikir limiah  (method of intelegence). Adapun mengenai pemilihan masalah, terdapat dua pendapat yang saling bertentangan. Yang pertama mengedepankan kebutuhan masyarakat  (social-centered) dan yang kedua mengedepankan  minat dan kebutuhan anak didik (child-centered). Namun demikian, pada dasarnya masih bisa diambil jalan tengah, yaitu dengan memilih masalah-masalah yang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak didik dengan tetap memperhatikan kebutuhan sosialnya.
a)    Kelebihan Integrated Curriculum
-    Segala hal yang dipelajari dalam unit bertalian erat satu sama lain. Bukan sekedar fakta-fakta terpisah, sehingga lebih fungsional bagi kehidupan anak.
-    Sesuai dengan  teori baru mengenai belajar yang mendasarkan pada pengalaman, kematangan, dan minat anak. Anak terlibat secara aktif, berbuat, serta  belajar bertanggung jawab.
-    Memungkinkan hubungan yang lebih erat antara sekolah dan masyarakat, karena masyarakat dapat menjadi laboratorium kegiatan belajar.

b)   Kelemahan Integrated Curriculum
-    Tidak mempunyai organisasi yang logis  dan sistematis. Bahan pelajaran tidak dapat ditentukan terlebih dahulu secara sepihak oleh guru atau lembaga, melainkan harus dirancang secara bersama-sama dengan murid.
-    Para guru umumnya tidak disiapkan untuk menjalankan kurikulum dalam bentuk unit.
-    Pelaksanaan kurikulum unit sangat memerlukan waktu, serta dukungan peralatan dan sarana dan prasarana yang cukup.
-    Tidak memiliki standar hasil belajar yang jelas, sehingga sulit mengukur kemampuan anak secara nasional.
b.    Struktur Vertikal
Struktur vertikal berhubungan dengan masalah sistem pelaksanaan kurikulum sekolah. Hal ini menyangkut: (1) apakah suatu kurikulum dijalankan dengan sistem  kelas atau tanpa kelas? (2) apakah sistem unit waktu yang digunakan? serta  (3) bagaimana pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi dan pokok bahasan?
Pelaksanaan Kurikulum dengan/dan Tanpa Sistem Kelas
1)   Sistem kelas
Pada sistem ini, penerapan kurikulum dilaksanakan melalui kelas-kelas (tingkat-tingkat) tertentu. Di SD misalnya, terdapat kelas 1 sampai dengan 6; di SMP/MTs terdapat kelas 1-3 atau 7-9;  dan di SMA/MA atau SMK/MAK terdapat kelas 1-3 atau kelas 10-12. Kurikulum setiap jenjang telah mencantumkan bahan apa saja yang harus disampaikan, seberapa luas dan dalam bahan tersebut, serta bagaimana urutan sajiannya pada tiap-tiap kelas. Cakupan (keluasan dan kedalaman) bahan/materi pelajaran dipikirkan sedemikian rupa sehingga dapat secara tuntas disajikan pada kelas tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula. Urutan bahan pun disusun secermat mungkin berdasarkan pertimbangan logis dan psikologis.  Jadi, bahan atau materi pelajaran  yang diperuntukkan pada setiap tingkat kelas berbeda-beda. Penentuan cakupan,  urutan, alokasi waktu pelajaran, dan kesesuaiannya dengan tingkat kematangan psikologis anak didik pada setiap kelas dilakukan dengan perhitungan dan pertimbangan yang cermat  dan tepat.  Adanya sistem kelas ini membawa konsekuensi dilaksanakannya sistem kenaikan kelas pada tiap tahun. Penentuan kenaikan kelas terutama didasarkan pada penguasaan bahan/materi pelajaran yang telah ditentukan untuk tiap tingkatan kelas.
Siswa naik kelas apabila dianggap telah memiliki tingkat penguasaan tertentu atas bahan/materi pelajaran yang dipelajarinya. Segi kelogisan, kesistematisan, dan ketepatan dalam penjenjangan bahan pelajaran yang harus diajarkan merupakan kelebihan dari sistem kelas. Selain itu, sistem ini juga memberikan kemudahan dalam hal penyusunan, pengembangan, penilaian kurikulum yang digunakan; pembagian tugas mengajar guru sesuai dengan kompetensinya masing-masing; penilaian hasil belajar siswa; serta pengaturan administrasi. Kelemahan pada sistem kelas di antaranya terletak pada timbulnya efek psikologis siswa (juga orang tua) yang tidak naik kelas. Mereka berpeluang menjadi malu, tertekan, dan bahkan frustrasi. Sistem ini pun sering tidak dapat menangkal faktor subjektif yang bisa merugikan siswa. Pada intinya, sistem kelas menuntut penataan materi pelajaran secara sistematis logis, dan terukur. Hal ini terkait dengan cakupan materi dan ketersediaan waktu pelajaran untuk setiap  tingkat kelas. Bagitu terjadi perubahan waktu tempuh untuk suatu jenjang pendidikan, maka akan berakibat pada perubahan keluasan materi pelajaran.
2)   Sistem Tanpa Kelas
Saudara, pelaksanaan kurikulum dalam “sistem tanpa kelas” tidak mengenal adanya tingkat kelas-kelas tertentu. Setiap siswa diberi kebebasan untuk berpindah program setiap waktu tanpa harus menunggu kawan-kawannya. Hal ini terjadi bila seorang siswa telah merasa mampu dan siap diuji tentang penguasaan materi yang harus diselesaikannya dalam setiap program. Misalnya untuk sampai pada suatu keahlian ukir, anak tidak dihadapkan pada batasan satuan waktu tertentu, melainkan  dihadapkan pada penguasaan materi. Di sini anak disodori unit-unit program yang harus diselesaikan. Siapa yang telah menguasai materi suatu unit program, maka ia bisa mengambil unit program lainnya tanpa harus menunggu temannya. Demikian seterusnya, sampai pada akhirnya ia menuntaskan keseluruhan program dan menguasai bidang keahlian ukir. Keunggulan sistem ini terletak pada kebebasan  yang dimiliki siswa. Siawa boleh memilih tingkat-tingkat program sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Jadi, sistem ini sangat memperhatikan individu dan perbedaan antarindividu. Oleh karenanya, pelaksanaan sistem ini sangat menuntut pendampingan siswa secara individual dan kesiapan satuan tingkat-tingkat program. Sementara itu, kelemahan sistem ini menyangkut substansi isi/materi pelajaran dan sistem pelaksanaan pendididkan secara makro di Indonesia. Dalam hal  substansi materi, dengan sistem ini sulit ditentukan cakupan dan urutan materi setiap program untuk mencegah keterulangan bahan/materi yang sama. Pada sisi pelaksanaan, guru akan mengalami kesulitan dan kerepotan. Apalagi, bila anak berpindah program dengan cara semaunya, bukan berdasarkan  pada aspek kemampuan. Dengan melihat berbagai kemungkinan yang ditimbulkan oleh sistem tanpa kelas, tampaknya sulit  untuk dapat menerapkan sistem tanpa kelas dalam sistem pendidikan di Indonesia, yang umumnya menggunakan sistem kelas.
3)   Kombinasi antara Sistem Kelas dan Tanpa Kelas
Saudara, dengan memperhatikan kelebihan dari sistem kelas dan sistem tanpa kelas, sebetulnya keduanya dapat dikombinasikan. Dengan sistem kombinasi ini, anak yang memilki tingkat kepandaian tertentu (tinggi) diberi kesempatan untuk terus maju, tidak harus terus bersama teman-temannya. Namun, tidak berarti pula ia meninggalkan kelasnya sama sekali. Sistem pendidikan seperti ini dapat disebut sebagai sistem pengajaran modul. Dalam sistem modul, di samping disediakan bahan pelajaran yang sama untuk seluruh kelas, juga disediakan kebebasan kepada siswa yang mampu untuk mengambil bahan/materi pelajaran berikutnya atau  program pengayaan. Dengan sistem modul, anak yang memang mampu mempunyai kemungkinan untuk dapat lebih dahulu menamatkan sekolah dibandingkan teman-temannya.
4)   Sistem Unit Waktu
Saudara, kalau Anda ingat rentang waktu sekolah di SD, SMP, ataupun SMA, maka jangka waktu belajar Anda tidaklah dalam satuan waktu yang utuh (tak terbagi): enam tahun dari kelas 1 hingga kelas 6 untuk SD/MI; tiga tahun dari kelas 1 hingga kelas 3 SMP/MTs; dan tiga tahun dari kelas 1 hingga kelas 3 SMA/MA atau SMK/ MAK. Setiap kelas membutuhkan waktu satu tahun. Pada setiap tahun itu pula masih dibagi lagi, dalam bentuk caturwulan ataupun semester. Itulah yang dimaksud dengan sistem unit waktu. Hingga saat ini, sistem unit waktu yang dikenal dalam pelaksanaan pendidikan adalah sistem caturwulan dan sistem semester. Dalam sistem caturwulan, waktu satu tahun dibagi menjadi tiga unit waktu masing-masing empat bulanan. Dari sini kemudian dikenal adanya caturwulan I, II, dan III. Pembagian unit waktu seperti itu berimplikasi pada penyusunan kurikulum untuk tiap-tiap tingkat. Pada setiap akhir caturwulan, anak akan mendapatkan nilai hasil belajar (rapor). Dengan demikian, dalam satu tahun anak akan mendapatkan tiga rapor. Sebagai contoh,  kurikulum 1968 dan sebelumnya merupakan kurikulum yang menggunakan sistem caturwulan.  Sitem unit waktu yang kedua adalah sistem semester. Dalam sistem semester, waktu satu tahun dibagi menjadi dua unit waktu. Masing-masing semester terdiri atas enam bulan, dengan 16 hingga 20 minggu belajar efektif. Sebagai catatan penting, pembagian tiap tahun menjadi dua semester tidak berarti setiap tahun dibagi menjadi dua unit waktu yang terpisah. Itu semua dimaksudkan demi tercapainya tujuan pendidikan di sekolah yang teralokasikan ke dalam satuan-satuan program. Setiap satuan program harus diselesaikan dalam waktu satu semester (enam bulan). Bahan pelajaran yang disusun dalam kurikulm juga dibedakan dalam semester-semester tersebut. Kurikulum 1975, 1984, hingga yang sekarang merupakan kurikulum dengan sistem unit waktu semester.
5)   Pengalokasian Waktu
Pengalokasian waktu menyangkut jatah waktu untuk masing-masing mata pelajaran dan isi program tiap mata pelajaran tersebut pada tiap tingkat sekolah. Sebagaimana Saudara ketahui, berapa lama (jam) anak ada di sekolah dalam tiap minggu? Keseluruhan jam tersebut bukankah digunakan untuk menempuh sekian jumlah mata pelajaran? Dengan demikian, bukankah harus dilakukan pembagian jatah jam untuk tiap-tiap mata pelajaran? Jawabannya adalah Ya. Kemudian, bagaimanakah membagi jam/waktu yang ada untuk sejumlah mata pelajaran tersebut? Inilah bahasan penting dalam hal pengalokasian waktu. 
a)    Pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran
Berapa jamkah yang harus diberikan untuk setiap mata pelajaran dalam setiap minggu? Pertanyaan ini penting dijawab karena jumlah jam yang tersedia dalam setiap minggu terbatas. Kalau setiap hari rata-rata waktu sekolah dari pk. 07.00 hingga pk. 13.00, berarti ada 300 menit. Setiap jam pelajaran rata-rata 45 menit, maka dalam satu minggu diperoleh jumlah jam pelajaran: 300/45 x 6 hari = 40 jam.
Selanjutnya, jumlah jam/minngu tersebut harus dibagi untuk semua mata pelajaran
yang ada secara adil. Adil tidak berarti dibagi rata, melainkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang meliputi bobot dan kedudukan masing-masing mata pelajaran. 
Pada dasarnya ada beberapa pertimbangan dalam menentukan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran.
Ø Besar kecilnya peranan suatu mata pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan,yang dikaitkan dengan lembaga dan spesialisasinya. Mata pelajaran yang besar  peranannya harus diberi jatah waktu yang  lebih banyak dari padamata pelajaran yang lain. Namun, ini bukan berarti menganakemaskan suatu mata pelajaran tertentu dan menganaktirikan pelajaran yang lain. Hal itu semata-mata lebih didasarkan pada penempatan suatu mata pelajaran sesuai dengan kedudukannya secara proporsional dan logis. 
Ø Keluasan, kompleksitas, dan taraf  kesulitan masing-masing mata pelajaran.  Ini pada dasarnya bersifat relatif. Semua menjadi sangat tergantung pada lembaga dan spesialisasinya. Untuk mata pelajaran yang cakupannya luas, ia perlu diberi jam/ waktu yang lebih banyak. Yang menentukan keluasan dan kedalaman suatu mata pelajaran ialah misi dan spesialisasi lembaga/sekolah itulah.
Ø Peranan mata pelajaran dalam penyiapan lulusan suatu sekolah sesuai dengan misinya. Berdasarkan misi ini, dikenal ada sekolah yang menyiapkan untuk melanjutkan ke tingkat sekolah di atasnya; ada pula yang menyiapkan lulusannya langsung terjun ke dunia kerja. Bagi sekolah yang menyiapkan lulusannya untuk studi ke jenjang di atasnya tentu akan memberi porsi waktu yang lebih terhadap mata pelajaran dengan isi materi yang  bersifat keilmuan. Sebaliknya, sekolah yang menyiapkan lulusannya terjun ke dunia kerja tentu akan memberi jam yang lebih banyak pada mata pelajaran yang menekankan pada keterampilan kejuruan.
Mata pelajaran yang kurang lebih berperan sama berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tadi diberi jatah waktu yang relatif sama pula. Pemberian jatah waktu
tiap mata pelajaran bisa juga didasarkan pada satuan yang ditetapkan. Misalnya pada kurikulum 1984, jatah waktu ditunjukkan dengan satuan kredit semester (sks) atau biasa disebut “kredit”. Mata pelajaran yang tergolong penting diberi sks yang lebih besar daripada mata pelajaran lain. Dari sisi ini, Anda jadi bisa melihat mata
pelajaran mana saja yang tergolong penting dan dominan bagi sekolah tertentu berdasarkan bobot sks mata pelajarannya.
b)   Pengalokasian waktu untuk pokok-pokok bahasan tiap mata pelajaran
Setiap mata pelajaran memiliki sejumlah pokok bahasan yang berbeda-beda. Penentuan jumlah jam/waktu dalam satu semester  untuk setiap pokok bahasan juga mangalami masalah yang sama dengan pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran. Hal ini terjadi karena jam yang dialokasikan untuk setiap mata pelajaran akan terkait dengan ketersediaan waktu untuk menyampaikan keseluruhan pokok bahasan yang ada dalam mata pelajaran tersebut.  Sebagai contoh, ada mata pelajaran dengan alokasi 2 jam/minggu. Dalam satu semester terdapat 18 minggu. Berarti total ada 36 jam tatap muka untuk mata pelajaran tersebut dalam satu semester. Jumlah total 36 jam inilah yang harus digunakan untuk menyampaikan (menyelesaikan) materi mata pelajaran itu dengan berbagai
pokok bahasan yang ada, termasuk di dalamnya tes formatif dan tes sumatif. Jadi, pembagian waktu untuk setiap pokok bahasan dalam suatu mata pelajaran juga harus mempertimbangkan hal-hal berikut.
Ø  Peranan setiap pokok bahasan dalam pencapaian tujuan pendidikan, baik tujuan instruksional mapun kurikuler yang terumuskan dalam bentuk kompetensi dasar. Pokok bahasan yang memiliki peranan lebih besar harus diberi alokasi jam lebih banyak daripada pokok bahasan yang lain.
Ø  Keluasan, kompleksitas, dan tingkat kesulitan tiap pokok bahasan. Pokok bahasan yang cukup luas, rumit, dan memiliki tingkat kesulitan tinggi harus diberi jatah jam lebih banyak, karena umumnya memerlukan waktu penyajian  yang lebih lama.
Ø  Aspek ranah kemampuan yang menjadi penekanan pokok bahasan yang dimaksud. Pokok bahasan itu menekankan kemampuan kognitif ataukan keterampilan? Ranah keterampilan umumnya memerlukan jam yang lebih banyak, karena untuk sampai pada penguasaan keterampilan perlu melewati aspek pengetahuan terlebih dahulu.
Pengalokasian waktu tiap pokok bahasan dapat juga telah ditentukan dalam kurikulum. Namun, pembagian waktu tersebut biasanya masih bersifat garis besar dalam satu semester. Misalnya ada  pokok bahasan yang mendapatkan alokasi 10
jam/semester. Selanjutnya, bagaimanakah 10 jam tersebut digunakan untuk menyampaikan seluruh materi pokok bahasan tersebut? Kurikulum biasanya tidak
mengaturnya.  Guru harus membaginya sendiri dengan memperhatikan sub-sub pokok bahasan yang ada di dalamnya.

2.    Bagaimana Strategi Pelaksanaan kurikulum?
                        Strategi pelaksanaan kurikulum adalah cara-cara yang harus ditempuh untuk melaksanakan suatu kurikulum sekolah, yang meliputi: pelaksanaan pengajaran/ pembelajaran, penilaian, bimbingan dan penyuluhan, dan pengaturan kegiatan sekolah secara keseluruhan. Strategi pelaksanaan kurikulum merupakan bagian yang termasuk dalam bidang garap pengembang kurikulum. Dengan strategi pelaksanaan kurikulum ini, maka para pelaksana (kepala sekolah dan guru) mempunyai pedoman kerja yang pasti, sesuai dengan ketentuan kurikulum yang dijalankan, sehingga kemungkinan pencapaian tujuan pendidikan menjadi semakin besar. 
a.    Pelaksanaan Pengajaran
             Saudara tentu masih ingat, bahwa kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Dalam interaksi pendidikan, pelaksanaan pengajaran merupakan hal yang sangat penting. Dari pelaksanaan pengajaran inilah hasil suatu proses pembelajaran (belajar dan mengajar) dinilai berhasil atau tidak.   Di antara hal yang termasuk dalam pelaksanaan pembelajaran adalah pemilih-an metode dan alat/media pendidikan yang digunakan. Pemilihan metode erat kaitannya dengan tujuan, bahan/materi, keadaan siswa, dan guru. Ini semua biasanya tidak dapat dipisahkan dan senantiasa harus memperhitungkan sarana-prasarana serta kondisi sekolah.   Sebagai contoh, dalam pelajaran Bahasa Indonesia terdapat materi berpidato. Karena berpidato merupakan sebuah keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, maka metode yang tepat adalah demonstrasi (praktik pidato). Bukan sekedar mempel-ajari teori pidato. Pengetahuan tentang konsep, prosedur, dan strategi pidato memang diperlukan, tetapi tidak cukup berhenti di situ. Melainkan harus berlanjut sampai pada praktik berpidato. Selanjutnya agar pembelajaran lebih menggairahkan, maka diperlukan media audio-visual. Dengan cara ini, siswa dapat menginspirasi model bagaimana orang dapat berpidato dengan baik. Namun, pemilihan media audio-visual (rekaman) ini cocok bagi  sekolah yang memiliki fasilitas itu. Bagi sekolah yang tidak mempunyai fasilitas audio-visual, maka guru harus mencari media lain atau strategi lain yang sesuai. Misalnya, dengan menugasi anak untuk mencermati kegiatan pidato pada siaran televisi atau radio di rumah.   Strategi pelaksanaan pengajaran umumnya dalam bentuk tatap muka di kelas, yang dilakukan guru berdasarkan perencanaan pembelajaran yang disusun sebelum-nya. Dalam berbagai perkembangan kurikulum di Indonesia rencana pembelajaran ini  dikenal dengan istilah-istilah Model Satuan Pelajaran (MSP atau SP), Satuan Pelajaran (Satpel), atau dalam KTSP dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam rencana pembelajaran itu dicantumkan komponen-komponen tujuan/kompetensi, kegiatan pembelajaran, bahan pelajaran, metode/ alat/media, dan evaluasinya. Rencana pembelajaran ini disusun untuk kepentingan guru dalam mengajar.
     Strategi pelaksanaan pengajaran lainnya adalah sistem modul. Modul disusun dalam bentuk satuan-satuan pelajaran.  Modul ini disusun untuk murid. Dengan modul diharapkan murid dapat belajar sendiri berdasarkan petunjuk-petunjuk yang dicantumkan. Karena harus memberikan kemungkinan murid belajar sendiri, maka modul disusun dengan uraian dan jabaran yang lengkap. Strategi pelaksanaan pengajaran lain adalah Paket Belajar. Untuk pelajar disiapkan paket-paket pelajaran yang  berisi satuan-satuan pelajaran lengkap dengan alat evaluasi dan umpan baliknya. Strategi ini juga memberikan peluang siswa belajar sendiri. Paket Belajar juga dikembangkan di perguruan tinggi dalam program belajar jarak jauh (PBJJ atau PJJ).
b.    Pendekatan Keterampilan Proses
             Saudara, pendekatan keterampilan  proses sudah kita kenal semenjak Kurikulum 1984. Hingga saat ini pendekatan tersebut masih sesuai untuk diterapkan dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Pendekatan keterampilan proses menekankan terlaksananya komunikasi dua arah dalam proses pembelajaran. Komunikasi dua arah mengindikasikan adanya peran serta aktif pada diri guru dan murid. Dalam proses pembelajaran murid terlibat secara fisik dan mental, sehingga apa yang diperoleh siswa dapat lebih mendalam. Melalui keterampilan proses, siswa didorong untuk mendapatkan informasi (ilmu), mengelola, mempergunakan, dan mengomunikasikannya. Dalam hal ini, siswa tidak hanya mempelajari isi pelajaran, tetapi juga belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Keterampilan “mendapatkan” pengetahuan itulah yang sangat ditekan-kan pada pendekatan keterampilan proses.  Penerapan pendekatan itu diawali dengan kegiatan pemanasan, yakni mengarahkan siswa pada pokok persoalan yang akan dipelajari. Misalnya dengan mengulas pelajaran minggu lalu yang terkait, meminta pendapat siswa, dsb. Kegiatan ini mengondisikan siswa untuk siap dalam belajar, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Kegiatan dilanjutkan dengan serangkaian  aktivitas mengamati, menginterpretasikan, meramalkan, menemukan konsep, merencanakan kegiatan lanjutan, melakukan penelitian, dan mengomunikasikan hasil temuan. Tampaknya, langkah-langkah pendekatan keterampilan proses sangat menekankan pada aktivitas akademik belaka. Nilai akademik memang kental sekali, tetapi di tengah pelaksanaan proses belajar sebetulnya terbangun juga sikap-sikap sosial melalui kerja sama antarsiswa dalam kelompok dengan sikap sportif saling mendukung. Misalnya, untuk menemukan suatu konsep anak harus melakukan serangkaian prosedur. Dalam prosedur ini bisa jadi ada aktivitas yang berat bila dilakukan anak seorang diri. Untuk mengatasinya, seorang siswa dapat bekerja sama dengan siswa lainnya. Namun, kerja sama itu tetap harus dibangun berdasarkan tanggung jawab individu. Bukan sekedar ikut secara kelompok, tetapi siswa tertentu boleh untuk tidak melakukan apa-apa.  Hal penting lainnya dalam keterampilan proses adalah mengkomunikasikan hasil temuan. Melalui kegiatan ini siswa dilatih untuk mampu menginformasikan  temuannya secara  lisan atau tulis. Bentuk lisan misalnya dengan cara presentasi dalam diskusi. Adapun tulis misalnya dengan membuat laporan tertulis, membuat poster (apalagi bisa dipamerkan), dsb.
c.    Kegiatan Kokurikuler dan Ekstrakurikuler
             Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah dikenal adanya tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Ketiganya merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan pada suatu sekolah. Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan utama persekolahan yang dilakukan dengan menggunakan jatah waktu yang telah ditentukan dalam struktur program. Kagiatan ini dilakukan guru dan siswa dalam jam-jam pelajaran tiap hari. Kegiatan intrakurikuler ini dilakukan untuk mencapai tujuan minimal setiap mata pelajaran, baik yang tergolong program inti ataupun program khusus.


1)   Kegiatan Kokurikuler
               Saudara, kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk lebih menmperdalam dan menghayati materi  pelajaran yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler di dalam kelas. Kegiatan ini dapat dilakukan secara individual atau kelompok. Dalam hal ini, hal yang perlu diperhatikan ialah menghindari terjadinya pengulangan dan ketumpang-tindihan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Selain itu, juga perlu dijaga agar para siswa tidak ”overdosis” karena semua guru memberi tugas dalam waktu yang bersamaan, sehingga siswa menanggung beban yang sangat berat. Oleh karena itu, koordinasi dan kerja sama antarguru merupakan hal yang perlu dilakukan, misalnya, melalui analisis pokok bahasan sejak awal dan merancang kegiatan kokurikulernya.
Dari pokok-pokok landasan pelaksanaan kegiatan kokurikuler, hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam merancang  dan melaksanakan kegiatan kokurikuler ialah sebagai berikut.
a)    Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan yang berkaitan langsung dengan kegiatan intrakurikuler. Tujuannya, untuk memberikan kesempatan kepada siswa  mendalami dan menghayati materi pelajaran.
b)   Tidak menimbulkan beban berlebihan bagi siswa.
c)    Tidak menimbulkan tambahan beban biaya yang memberatkan siswa atau orang tua.
d)   Penanganan kegiatan kokurikuler dilakukan dengan sistem administrasi yang teratur, pemantauan, dan penilaian.
2)   Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan sebagai kegiatan yang diarahkan untuk memperluas pengetahuan siswa, mengembangkan nilai-nilai atau sikap, dan menerap-kan secara lebih lanjut pengetahuan yang telah dipelajari siswa dalam mata pelajaran program inti dan pilihan. Walapun sama-sama dilaksanakan di luar jam pelajaran di kelas, bila dibandingkan kokurikuler, kegiatan ekstrakurikuler ini lebih menekankan pada kegiatan kelompok. Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dengan memperhatikan minat dan bakat siswa, serta kondisi lingkungan dan sosial budaya.Pelaksanaannya ditangani oleh guru atau petugas lain yang ditunjuk. Kegiatan keolah-ragaan seperti bola basket, bola voli, dan pencak silat, dipilih sesuai dengan minat dan bakat siswa. Begitu pula dalam bidang penalaran seperti jurnalistik dan kelompok ilmiah remaja. Juga, dalam bidang seni seperti drama, lukis, dan tari. Keseluruhan bidang ini merupakan wahana untuk memperluas wawasan, serta membangun nilai dan sikap positif siswa.
d.   Bimbingan Karier
        Bimbingan karier merupakan kegiatan bimbingan untuk membantu para siswa memahami dirinya sendiri, lingkungan, dan masa depannya. Pelaksanaan bimbingan (dan penyuluhan) dapat dilakukan secara individual maupun kelompok, dengan menekankan pada perkembangan dan kecenderungan individu. Bimbingan dan penyuluhan ini terutama dimaksudkan untuk membantu siswa dalam menetapkan pilihan program (bidang keilmuan) yang terkait dengan masa depannya, seperti dalam pemilihan program (IPA, IPS, atau Bahasa) dan pemilihan jurusan/perguruan tinggi bila siswa akan melanjutkan sekolah.
e.    Penilaian
        Penilaian dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana tujuan pendidikan telah dicapai setelah berakhirnya kegiatan pembelajaran. Sasaran penilaian ini meliputi keseluruhan proses maupun hasil yang dicapai dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Penilaian ini harus bersifat objektif, menyeluruh, dan berkesinambungan. Objektivitas dimaksudkan agar penilaian mampu menggam-barkan keadaan yang sesungguhnya. Sifat menyeluruh berkenaan dengan penilaian terhadap semua aspek kemampuan (kognitif, afektif, psikomotot). Berkesinambungan artinya penilaian dilakukan terus menerus, terencana, dan bertahap, serta berlangsung selama proses pembelajaran hingga kegiatan berakhir pada penghujung semester. Dikaitkan dengan satuan materi dan waktu pelaksanaan, dalam penilaian dikenal adanya penilaian formatif, subsumatif, dan sumatif. Penilaian formatif dilakukan untuk mengevaluasi penguasaan hasil belajar siswa yang berkaitan dengan unit bahan tertentu. Hasil penilaian ini dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik oleh guru dan siswa untuk melihat ketercapaian tujuan belajar berkenaan dengan unit
tertentu. Penilaian subsumatif merupakan penilaian yang dilakukan pada unit bahan yang lebih luas, misalnya pada tengah semester. Adapun penilaian sumatif merupakan penilaian yang mencakup seluruh unit bahan dan dilaksanakan pada akhir semester.
f.     Administrasi dan Supervisi Pendidikan
        Pelaksanaan kurikulum di sekolah melibatkan banyak aspek, baik yang bersifat manusia maupun material. Kesemuanya itu harus terkelola secara baik dengan pendayagunaan secara efektif dan efisien guna menunjang pencapaian tujuan  pendidikan. Administrasi pendidikan di sekolah berhubungan dengan: pengaturan proses pembelajaran, peralatan pembelajaran, pemanfaatan dan pemeliharaan gedung, perlengkapan, keuangan, dsb. Agar dapat mendukung secara optimal pencapaian tujuan pendidikan, maka semua itu harus dilakukan secara sistematis, terinci, dan terencana. Supervisi pendidikan merupakan bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang lebih baik. Bantuan yang diberikan dapat mencakup persoalan teknis administratif maupun teknis edukatif. Supervisi ini harus dilaksanakan secara terencana, sistematis, demokratis, kooperatif, konstruktif, dan kreatif.














BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A.      SIMPULAN
Adapun yang dapat disimpulkan dari makalah ini adalah Organisasi kurikulum merupakan hal yang terpenting dalam mencapai tujuan pendidikan, oleh sebab itu pengorganisasian dalam kurikulum sangat diperlukan dan diharuskan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Melalui organisasi kurikulum ini, guru dan pengelola pendidikan akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan program pendidikan, bahan ajar, tata urut dan cakupan materi, penyajian materi, serta peran guru dan murid dalam  rangkaian pembelajaran. Cara pengembang kurikulum mengorganisasikan kurikulum akan berkaitan pula dengan bentuk atau model kurikulum yang dianutnya.
Adapun cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan adalah dengan menyusun struktur program organisasi kurikulum yaitu struktur vertikal dan struktur horizontal. Struktur horizontal berkaitan dengan bagaimana bahan/mata pelajaran diorganisasikan/disusun dalam pola-pola tertentu. Adapun struktur vertikal berkaitan dengan sistem pelaksanaan kurikulum di sekolah.

B.       SARAN
Adapu saran yang ingin disampaikan adalah :
1.         Kepada para pendidik harus mampu mengorganisasikan kurikulum sehingga tujuan pendidikan bisa dicapai;
2.         Kepada para calon pendidik/guru semoga bisa mengambil pengalaman dari makalah ini mengenai Organisasi Kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan.












DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, E. 2006.  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution. 1982. Asas-asas Kurikulum. Bandung: Jemmars.
Nurgiyantoro, Burhan. 1988.  Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah; Sebuah Pengantar Teoretis dan Pelaksanaan. Yogyakarta: BPFE.
 Sukmadinata, Nana Saodih. 2004.  Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Copyright © Rahmat Zaki Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger